BERBAGI

Medsoslampung.co – Seratusan orang mengikuti salat istisqa di Lapangan PTPN VII Unit Kedaton di Desa Way Galih, Lampung Selatan, Jumat (1/11) pagi.
Mereka bermunajat kepada Alloh SWT agar ditutunkan hujan di musim kemarau yang sudah berlangsung enam bulan lebih ini.

Diimami Ust. Teguh Prasetyo, jemaah salat adalah karyawan PTPN VII dan warga Desa Way Gelih, Banjaragung, Sindangsari, dan siswa SMP Taruna Darma, Lampung Selatan.

Manajer PTPN VII Unit Kedaton Willy Mulyawan mengatakan, sebagai perusahaan perkebunan, pihaknya mengaku sangat bergantung dari air hujan. Oleh sebab itu, ketika kemarau cukup ekstrem terjadi di wilayah kerjanya, ia terus berikhtiar secara maksimal agar tanaman karet yang dibudi dayakan bisa bertahan.

“PTPN VII sebagai perusahaan perkebunan sangat bergantung kepada kondisi alam. Bagi kami, panas terus ya kurang bagus, hujan terus juga bikin produksi kurang maksimal. Sementara, hujan atau panas itu kan hak prerogatif Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, dalam hal ini kami ikhtiar minta kepada Alloh melalui salat istisqa,” kata dia usai melaksanakan salat.

Willy menambahkan, hujan yang sudah lama tidak turun juga sudah mengganggu aktivitas warga sekitar. Bukan hanya lahan untuk bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama, bahkan banyak sumur warga yang sudah kehabisan air.

“Kondisi lingkungan juga sudah terasa gersang karena rumput banyak kering, pohon-pohon kelihatan layu, dan udara berdebu. Maka, waktu kami gagas dan ajak masyarakat mengadakan salat istisqa, masyarakat banyak yang mendukung,” kata dia.

Dalam tausiahnya, Ust. Teguh Prasetyo menyampaikan bahwa kekuasaan Alloh SWT tidak terbatas oleh apapun. Jika Alloh menghendaki suatu keadaan suatu kaum, entah itu keberuntungan maupun keburukan, kata dia, sesungguhnya amat mudah. Dan apa yang telah ditimpakan kepada manusia, tambah dia, semua adalah ujian yang memberi hikmah.

“Kemarau cukup panjang yang kita alami saat ini, sesungguhnya adalah peringatan dari Alloh SWT. Ini adalah ujian bagi kita, apakah bisa melaluinya dengan tetap istikamah dengan rasa syukur. Dan dengan peristiwa ini, kita bisa menghadapi siklus musim tahun depan dengan lebih bijaksana. Misalnya, dengan tidak menebang pohon sembarangan dan selalu hemat air,” kata dia.

Mengenai salat istisqa, Ustaz Teguh menegaskan bahwa Islam memberi opsi produktif dalam semua masalah. Urusan kehidupan dan keberadaan dunia, baik yang dialami manusia maupun mahluk lainnya, kata dia, sesungguhnya telah diatur oleh Islam.

“Segala yang terjadi pada dunia ini sudah dalam skenario Alloh SWT. Kita sebagai orang beriman wajib menjalankan syariatnya. Dan ketika kita kekurangan air, ikhtiar pertama tentu kita menggali sumur atau mencari ke sungai. Tetapi jika sudah terlalu sulit, kita serahkan keputusan Alloh dengan salat istisqa ini. Kita sangat berharap dikabulkan, tetapi kalau Alloh berkehendak belum, maka itu adalah takdir yang harus kita terima,” kata dia. (brl)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here