BERBAGI

Medsoslampung.co – Top 99 Inovasi Pelayanan Publik resmi digulirkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyuguhkan dua inovasi dalam tahap wawancara di Kantor Kementerian PANRB, Jakarta, Selasa (2/7).

Melalui RSUP dr. Sardjito, Kementerian Kesehatan menciptakan inovasi Vacuum Assisted Closure (VAC) atau Negative Pressure Wound Therapy (NPWT). VAC merupakan teknologi perawatan bermacam-macam kondisi luka, baik luka tersebut bersifat akut maupun kronik.

Metode manajemen luka dengan VAC memiliki empat mekanisme penting pada luka yaitu macrodermation, remove fluid, stabilize the environment, dan microdeformation.

Dierektur Utama RSUP dr. Sardjito, dr. Darwito mengatakan, terapi luka dengan menggunakan tekanan negatif mempercepat penyembuhan luka.

“Efektifitas penggunaan VAC pada penanganan luka sudah diakui oleh banyak klinisi, sehingga diperlukan inovasi tentang mesin VAC yang ada selama ini agar lebih mudah dan murah untuk digunakan,” jelasnya.

Mesin VAC yang dikembangkan Kemenkes mempunyai fungsi yang sama dengan VAC pabrikan, namun mempunyai biaya pengadaan yang relatif lebih murah, sehingga dapat diproduksi dalam jumlah banyak sesuai kebutuhan.

Selain itu, mesin ini dapat dibawa pulang ke rumah oleh pasien sehingga akan menurunkan angka Length of Stay (LOS) pasien di rumah sakit.

“Pasien hanya perlu datang untuk mengganti vacuum dressing setiap 3-4 hari sesuai dengan keadaan lukanya,”ujar dr. Darwito.

Keunggulan lainnya adalah harga VAC versi dr. Sardjito yang jauh lebih terjangkau. Jika mesin VAC keluaran pabrik bisa mencapai Rp50 juta, VAC ciptaan dr. Sardjito ini hanya memakan biaya sekitar Rp300.000,-.

Inovasi kedua dari Kemenkes adalah Regional Maintenance Center (RMC), yang diinisiasi oleh Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

“Peran RMC di dinkes provinsi maupun kabupaten/kota dalam pengujian kalibrasi alat kesehatan sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan telah sesuai dengan standar norma yang berlaku, sehingga mutu pelayanan kesehatan terjamin dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Dirjen Pelayanan Kesehatan dr. Bambang Wibowo.

Latar belakang inisiasi inovasi ini adalah banyak rumah sakit dan puskesmas di daerah yang alat kesehatannya rusak berat, rusak sedang dan atau rusak ringan. Dari permasalahan tersebut akan mempengaruhi kinerja Rumah Sakit dan Puskesmas dalam pelayanan kepada masyarakat terkait kesehatan.

Kebanyakan Rumah Sakit dan Puskesmas apabila alat kesehatan itu rusak akan menganggarkan untuk pembelian kembali alat kesehatan yang rusak tersebut tanpa menganalisa dulu apakah bisa diperbaiki atau tidak.

Maka dari itu analisa dibutuhkan untuk mengkategorikan bahwa alat kesehatan tersebut rusak berat, rusak sedang dan atau rusak ringan. Signifikansi RMC bagi Pemerintah Daerah adalah dapat menghemat anggaran pembelian alat kesehatan sehingga APBD bisa dialokasikan ke anggaran yang lain yang lebih membutuhkan.

Bagi pemerintah pusat, salah satu pemenuhan indikator dalam program nawacita Indonesia sehat. (drw/jpn/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here