BERBAGI
Aktris dan seniman Olivia Zalianty mengabadikan momen dirinya menyanjung pesona Tegal Mas Island.

Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS mengunjungi Tegal Mas Island, Selasa (1/10). Ia mengantar tamu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, yakni Olivia Zalianty dan Erfin Faz. Berikut perjalanannya. 

SAYA baru sekali ke Pulau Tegal di Pesawaran, Provinsi Lampung.

Nama destinasi wisata milik Thomas Riska sebenarnya sudah lama saya ketahui, bahkan sudah dikenal hingga ke luar Lampung. Owner ini juga memunyai Bukit Mas dan Puncak Mas di Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung.

Kali ini, saat mengunjungi Tegal Mas Island, saya ditemani Muchlas E Bastari, dan Tedy Kurniawan. Kami mengantar tamu Olivia Zalianty dan Erfin Faz, yang mengisi malam puncak Pekan Puisi 2019, di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, Jalan Raden Saleh, Tanjung Senang, Kota Bandar Lampung pada 30 September 2019 malam.

Sebelum menuju Mutun, dermaga menuju pulau itu, Olivia-Erfin disuguhi indahnya Puncak Mas. Pesona dari ketinggian Sukadanaham menikmati alam di bawah sana, dan laut dari kejauhan, bagaikan di awan.

Pukul 09.30 kami tiba di Mutun. Kapal cepat khusus tamu VVIP sudah menanti. Kapal pun menembus gelombang, melewati pulau-pulau sepeti Pulau Tangkil.

Saat disebut Pulau Tangkil, saya teringat semasa SLTA. Bersama kawan sekolah kami pernah bermalam.

Tapi di sini, saya tak bicarakan Pulau Tangkil. Tegal Mas Island ternyata lebih menyihir!

Pulau itu amat luas. Puluhan cotage berbentuk rumah adat Lombok menanti untuk ditengok. Kabarnya percotage seharga antara Rp4 juta hingga Rp5 juta permalam.

Harga itu rasanya murah untuk mendapatkan keindahan sensasi. Cotage dan resto dibangun di atas laut, menggunakan pelampung. Sehingga jika ada ombak, bergoyang. Gelombang yang bersahabat, tak membuat pengunjung pucat.

Tentu destinasi yang sudah dirancang sangat matang. Thomas Riska sepertinya sudah menyiapkan konsep sebelum destinasi terwujud.

Perjalanan dari Mutun ke Tegal Mas hanya membutuhkan waktu 8 sd 15 menit. Tak melelahkan dan tidak mengkhawatirkan di laut.

Di Tegal Mas ini terdapat sebuah masjid apung dan satu musola di resto/cotage apung. Ini pun tentu sudah dikonsep matang. Sebuah destinasi wisata alam dan religius. Konsep dunia dan akhirat dikemas jadi satu.

Kami mengelilingi pulau ini naik mobil khusus di sana. Sungguh luas dan puas. Kami berkali-kali foto dan mengambil momen keindahan lokasi itu.

Rombongan Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS saat santap siap di Tegal Mas Island.

Olivia mengagumi pulau ini, setelah ia menyelam selama 45 menit di kedalaman 10-12 meter. Ia katakan pesona Tegal Mas sangat keren.

Selain ingin kembali, ia juga berniat mempromosikan Pulau Tegal.

Saya pun mengabadikan momen puitik lewat 1 puisi ini:

TEGAL MAS ISLAND

lalu waktu milik kita
laut merengkuh
pasirpair di dalam tubuh
gelombangkan angin
ke pusara akan datang

kau berenang ke pucuk
pantai, aku cukup di sini
menatap rumahrumah
di atas air

ini tegal mas island
lalu waktu mengajakku
berumah ini pantai

daundaun pepohonan melambai
laut bergolak damai

aduhai,
kupanggilpanggil nenekmoyangku
pelaut. bawa aku ke dalam birunya

1 Oktober 2019

Dalam batin, terbit gagasan, andai di sini dilangsungkan sebuah event sastra sekelas negara tetangga. Atau tak menutup kemungkinan internasional, sungguh akan makin mendunia Tegal Mas. Event yang bernama Tegal Mas Island Festival Puisi Internasional.

Sebagai tuan rumah, Lampung pasti bisa! Salam. (isbedy/sastrawan).

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here