BERBAGI

Medsoslampung.co – Inovasi ketel minyak kayu putih Baristand Industri Ambon (Si Telmi Biam) menjadi terobosan Kementerian Perindustrian (Kemenprin) melalui Balai Riset dan Standarisasi Industri Ambon yang disuguhkan kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Kamis (4/7).

Sekjen Kemenperin Winarto menjelaskan bahwa selama ini penyulingan dengan ketel kayu konvensional menyebabkan kualitas warna kayu putih tidak jernih karena tercampur dengan ekstrak lemak kayu bakar, dan perbandingan jumlah kualitas ekstrak juga rendah. Produksi satu unit ketel hanyalah 2,4 kilogram minyak kayu putih per hari dengan tenaga kerja enam orang.

Dengan Si Telmi Biam, produktivitas penyulingan dapat dilipatgandakan. Untuk satu ketel, dalam satu hari dapat dilakukan tiga kali produksi, dengan daya serap bahan baku naik dari 300 kg daun/hari menjadi 600 kg daun/hari, sehingga total produksi mencapai 7,2 kg minyak kayu putih/hari, dan daya serap tenaga kerja juga naik menjadi 12 orang/hari.

“Si Telmi Biam telah dikembangkan oleh Baristand Industri Ambon sejak tahun 2005, dan sampai tahun 2018 telah diproduksi 462 unit,” jelas dia.

Menurut dia, Si Telmi Biam memberikan dampak positif bagi perajin yang merupakan target inovasi dengan meningkatnya hasil penyulingan minyak kayu putih sebesar 0,4 persen. Dampak inovasi bagi masyarakat diluar kelompok sasaran yaitu pada pengurut daun kayu putih, dapat dilihat dari meningkatnya penghasilan pengurut daun kayu putih menjadi dua kali lipat. (drw/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here