BERBAGI

Sekretaris PWI Provinsi Lampung Nizwar berkesempatan berkunjung ke PT. Inalum di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Berikut catatan perjalanannya ke BUMN pertama dan terbesar Indonesia yang bergerak dibidang peleburan Aluminium itu.

TIBA di Bandara Internasional Kuala Namu, saya masih menunggu rombongan dari Jakarta. Sebelumnya, akibat runway Kuala Namu padat, pesawat yang mereka tumpangi juga harus transit di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pakanbaru, Provinsi Riau.

Namun tak lama. Hanya berselang 10 menit. Kami pun bertolak menuju Kabupaten Batu Bara via tol, dengan tiga unit mobil. Waktu tempuh berkisar 1 jam 30 menit.

Konvoi kendaraan dipimpin rombongan Ketua PWI Provinsi Sumut Hermansyah. Sekitar 45 perjalanan, mobil berhenti. Tetap di depan Restoran India, Tebing Tinggi. Jam menunjukkan pukul 23.15 menit. Makan malam jelang dini hari. Hahaha…

Kuala Namu Airport

Bang Hermansyah merekomendasikan agar kami memesan menu khas Sumut, Nasi Briyani daging kambing plus semangkuk kecil kuah kari. Yang takut darah tinggi, bisa dipadukan daging sapi. Rasanya, sama-sama maknyus!

Setelah 30 menit rehat, perjalanan berlanjut. Lalu lintas menuju Batu Bara, padat lancar. Seperti di jalur lintas Lampung – Sumatera Selatan, malam hari mayoritas dilalui truk-truk.

Perjalanan melelahkan tuntas saat kendaraan kami memasuki areal pemukiman PT Inalum. Luasnya 200 hektar. Wow!

Begitu memasuki portal, di kanan jalan terdapat areal parkir puluhan bus karyawan. Bagian kiri, kantor pusat pengendalian pemukiman. Kantor itu memastikan pelayanan perumahan karyawan, rumah sakit, sekolah, sarana olahraga termasuk dua gedung olahraga, kolam renang, danau dan ruang terbuka hijau berikut fasilitas bermain anak. Lengkap sekali.

Setelah masuk lebih kurang 600 meter ke komplek perumahan PT Inalum, mobil yang saya tumpangi berhenti tepat di depan mess yang sudah dipersiapkan untuk rombongan kami.

Mess persis bersebelahan dengan rumah dinas Wakil Bupati (Wabub) Batu Bara Oky Iqbal Frima. Ada dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja berjaga di beranda rumah.

Sang wabub tak ada di tempat. Karena itu akhir pekan, maka ia kembali ke rumah pribadi di Tebing Tinggi.

Saya pun bergegas masuk ke dalam mess. Merebahkan tubuh, melepas lelah. (Bersambung)

 

 

 

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here