BERBAGI

Medsoslampung.co – Pengamat Pasar Uang, Farial Anwar mengungkapkan fakta miris. Sejak tahun 2010, rupiah Indonesia katagori garbage money alias uang sampah.

Fakta yang juga menyakitkan. Karena itu, sudah saatnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo merealisasikan janji melanjutkan rencana redenominasi, dari Rp1.000,- menjadi Rp1,-. Sebab, penyederhanaan nilai rupiah itu solusi menaikkan nilai mata uang terhadap dolar AS.

Pada 2017 lalu, Agus Martowardojo, Gubernur BI saat itu mengharapkan redenominasi bisa dilaksanakan pada 2020 mendatang. Ini artinya hanya tinggal 6 bulan lagi rencana tersebut harus dijalankan.

Tapi untuk menjalankan rencana itu, jalannya masih panjang. Mulai dari pembahasan rancangan undang-undang redenominasi, perjalanan masuk program legislasi nasional (prolegnas) sampai masa transisi hingga masa penerapan.

Penyederhanaan nilai ini bertujuan agar bisa lebih efisien, rupiah makin berdaulat dan lebih bergengsi jika dibandingkan dengan mata uang negara lain.

Mengutip pemberitaan detikFinance 4 April 2018, redenominasi ini direncanakan sejak Deputi Gubernur Senior masih dijabat oleh Darmin Nasution yang saat ini Menko Perekonomian.

Setelah Darmin selesai menjadi Gubernur, Agus Martowardojo yang menduduki Gubernur selanjutnya makin menguatkan rencana redenominasi itu. Namun hingga akhir jabatan Agus, redenominasi itu belum juga terealisasi, RUU belum jadi dan tak masuk prolegnas.

Gubernur BI Perry Warjiyo

BI kini dipimpin oleh Perry Warjiyo, yang dalam paparan visi misinya, selain mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, juga akan meneruskan kebijakan yang sudah dilakukan Agus Martowarojo, yakni redenominasi.

Saat itu, Perry menyebut BI merumuskan dan menyampaikan ke pemerintah soal arahan rencana ini.

Dalam redenominasi, baik nilai uang maupun barang hanya dihilangkan angka nol nya saja. Jadi nilai uang tetap sama, hanya lebih ringkas saja.

Dengan demikian, redenominasi akan menyederhanakan penulisan nilai barang dan jasa yang diikuti pula penyederhanaan penulisan alat pembayaran. Setelah itu dilanjutkan dengan penyederhanaan sistem akuntansi dan sistem pembayaran tanpa menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian.

Contoh redenominasi misalnya. Saat ini anda memiliki uang Rp100.000,- dan bisa digunakan untuk membeli lima bungkus nasi Padang menggunakan lauk ayam goreng, dengan redenominasi, maka tiga angka nol akan hilang dan menjadi Rp100,-. Namun harga tersebut masih tetap bisa membeli lima bungkus nasi Padang dengan menu yang sama. (dtk/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here