BERBAGI

Medsoslampung.co – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Federasi Serikat Pekerja Perkebunan (FSPBUN) menandatangani Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Induk di Kantor Kementrian Ketenagakerjaan RI, Jakarta, Senin (23/12).

PKB Induk ini adalah PKB ke 11 yang telah ditandatangani oleh FSPBUN dengan manajemen PTPN.

Ketua Umum FSPBUN Wispramono mengungkapkan bahwa PKB bukan merupakan akhir dari capaian kesejahteraan karyawan. “Namun merupakan awal dari upaya serikat pekerja dan manajemen untuk bersama-sama berjuang memajukan perusahaan dan meningkatkan perusahaan dan kesejahteraan karyawan sesuai motto: Perusahaan Sehat Karyawan Sejahtera,” ungkapnya.

Wispramono mengatakan, selama lima tahun terakhir, jabatan Dirut PTPN Group berganti enam kali. Terlepas dari penyebabnya, ia berharap Pemerintah sebagai pemegang saham bisa memberi ruang dan waktu yang cukup bagi direksi untuk bekerja dengan baik.

“Bagaimana mungkin dapat bekerja dengan baik hanya dengan waktu yang tidak sampai satu tahun. Berfikirnya akan short time dan ini tidak baik untuk perusahaan perkebunan yang memiliki kegiatan yang kompleks dan panjang, mulai dari pekerja, lingkungan, alam dan lainnya,” katanya.

Penanda tanganan yang dilanjutkan dengan sosialisasi PKB Induk itu, dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah. Dari PTPN Group hadir jajaran Direksi PTPN III (Persero) selaku induk holding PTPN, jajaran Direktur PTPN I– XIV, dan para Direktur Anak Perusahaan, dan pejabat utama lainnya.

Sedangkan dari serikat pekerja, hadir seluruh Pengurus Harian dan Pengurus Pleno FSPBUN, Perwakilan dari masing-masing SPBUN Tingkat perusahaan serta Pengurus LBH Perkebunan.

Sementara itu, Plt.Dirut Holding Muhamad Abdul Ghani mengapresiasi FSPBUN telah menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi selama 11 kali perundingan atau 22 tahun dapat berjalan lancar tidak ada permasalahan yang berarti.

“Kondisi ekonomi ke depan akan semakin berat perlu adanya sinergisitas dan kerjasama untuk langkah yang lebih baik, kekuatan korporasi ditentukan oleh kekuatan hubungan manajemen dan Serikat Pekerja. Daya saing perkebunan ke depan semakin diuji, jika tidak dapat menjadi leader market, maka kita perlu membangun daya saing yang sustanibel, semua kuncinya pada harga pokok,” tandasnya.

Ia menambahkan, mengingat kekuatan perusahaan tergantung dari kekuatan SDM dan untuk mengelola SDM diperlukan hubungan yang harmonis antara manajemen dan serikat pekerja. Saat ini kita mendapat bonus demografi dengan hadirnya para generasi millenial, diperlukan pembentukan budaya nilai-nilai  platers, sehingga akan menjadi kekuatan dalam meningkatkan produktivitas dan produksi perusahaan.

“Jargon FSPBUN perusahaan sehat karyawan sejahtera merupakan milik kita semua dapat diwujudkan dengan sinergisitas kita bersama”, tutupnya. (brl/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here