BERBAGI
Kasatreskrim Polres Pesawaran Iptu Hasbi Eko Purnomo

Medsoslampung.co – AN (33), tetangga yang diduga membunuh Bustori (53), dan anak angkatnya, Tegar (5), warga Desa Cimanuk, Kecamatan Way Lima, akhirnya tewas.

Kasatreskrim Polres Pesawaran Iptu Hasbi Eko Purnomo membenarkan AN, tewas ketika sedang dilakukan penyelidikan oleh aparat.

Hasbi memastikan semua tindakan yang dilakukannya telah sesuai dengan prosedur. Dirinya mengatakan petugas memang melakukan tindakan pelumpuhan kepada terduga yang hendak melakukan perlawanan kepada aparat.

“Jadi, memang semua tindakan yang kita lakukan itu sudah sesuai dengan prosedur. Pelaku memang kita berikan tindakan terukur berupa pelumpuhan,” ujar Hasb, Sabtu, (1/6).

“Tapi itu semua bukan tanpa alasan. Sewaktu kita turunkan dari mobil, pelaku mencoba melakukan perlawanan. Sebab itu kami lumpuhkan kakinya sebanyak empat kali tembakan,” tambahnya.

Hasbi melanjutkan, selepas pelaku dilumpuhkan dirinya langsung membagi tim menjadi dua bagian. Satu tim membawa pelaku ke rumah sakit RSUD Pesawaran.

“Salah satu tim kami membawa tersangka ke RSUD dan di sana tersangka mendapatkan penanganan medis, setelah itu tersangka kami bawa lagi kembali ke Polres, hanya saja sewaktu hendak dimasukan ke dalam sel ternyata darahnya masih keluar, dan dari situ kami bawa lagi ke rumah sakit Bhayangkara dan disana setelah penanganan kami dapat kabar bahwa tersangka sudah tiada,” ungkap Hasbi.

“Indikasinya meninggal karena kekurangan darah. Kami nggak tau gimana penanganan di RSUD kok masih bisa keluar darah,” pungkasnya.

Terpisah, Tokoh Masyarakat Pesawaran Mualim Taher menyoroti peristiwa ini. “Saya rasa keprofesionalan dari aparat perlu dipertanyakan. Bagaimana bisa seorang yang statusnya masih terduga datang dengan kondisi segar bugar tapi pulang dengan kondisi tidak bernyawa?” ujar Mualim.

Dia menyayangkan tindakan berlebihan yang dilakukan kepolisian resort Pesawaran. Terlebih status yang bersangkutan baru sebatas terduga dan belum menjadi tersangka.

“Kan statusnya masih terduga, perlu proses yang panjang untuk bisa menetapkan tersangka, dan juga nggak mungkin lagi mau ngelawan itu (terduga-red), tangan di borgol, mata ditutup pakai lakban mana bisa mau ngelawan,” ujarnya.

Menurutnya polisi semestinya bisa bersikap sabar dan lebih tenang dalam menangani terduga, karena dengan begitu aparat bisa menggali informasi lebih lanjut terkait dengan masalah pembunuhan tersebut.

“Saya sangat menyayangkan, bukan berarti saya membela terduga atau tidak bersimpati atas korban, hanya saja harusnya polisi bisa mendapatkan informasi lebih dalam dari terduga, inikan baru satu terduga kita gak tau kalo misal ada tersangka lain,” pungkas Mualim. (ram/snd/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here