BERBAGI

Oleh; Anindya*

Musda Demokrat Lampung salah satu musda yang menarik perhatian. Karena menjadi pertarungan antara mantan gubernur berusia muda, berencana maju kali ketiga ketua DPD Demokrat, MRF panggilan tokoh itu dikabarkan masih penasaran atas kekalahan Pilgub, kisah tragis kalah melawan mantan sekdanya saat berkuasa.

Jika dipilih kembali menjadi Ketua DPD Demokrat, diperkirakan Ia akan menebus kekalahannya, minimal separuh syarat kursi bisa didapat demokrat di pileg 2024, bahkan bisa lebih karena Demokrat akhir-akhir ini moncer elektabilitas.

Adapun lawannya adalah yang tak pernah diduga sama sekali, tak pernah masuk hitungan politiknya, dia adalah Tokoh Akademisi sekaligus politisi, Doktor Edi Irawan. Pernah menjadi anggota DPRD Provinsi, pernah kalah melawan adik inkumben dalam pemilihan bupati salah satu kabupaten di Lampung. Di sini menariknya, Edi Irawan ini kakak kandung Andi Arief, mantan staf khusus Presiden SBY, mantan wasekjen Demokrat dan saat ini menjadi kepala Bapilu Partai Demokrat.

Meski Andi Arief menolak dihubungkan dengan pencalonan kakaknya, bahkan tidak pernah mau berkomentar soal Musda ini berkali-kali oleh wartawan, namun siapa yang bisa percaya bahwa seorang adik tidak mau membela kakaknya.

Ketidakhadirannya dalam Musda hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak terlibat. Padahal, catatan politik gerakan misterius Andi Arief kalau kita googling cukup banyak. Sekali lagi, siapa yang percaya Andi tak terlibat. Hanya Tuhan yang tahu. Tapi menurut salah satu bupati yang sangat dekat dengan MRF, dia percaya pemberontakan frontal 7 DPC dan 4 DPC secara diam-diamlah penyebabnya kekalahan MRF dalam Musda yang kemarin berakhir.

Tapi bisa dibayangkan dua kakak beradik ini kalau bergabung, modal kecerdikan dan kecerdasan dan posisi politik serta logistik (terutama Edi Irawan) saat ini jika momentum datang, akan jadi kekuatan. Tapi bukan logistik tumpuan mereka berperang.

Riwayat pendidikannya jelas. bagi saya yang mengenal mereka berdua, bahkan keluarganya, maka kita belajar bagaimana mengubah hidup itu dengan kemauan dan belajar. Ilmu pengetahuan menyediakan tempat bagi yang mau berubah.

Mereka berdua lahir dari keluarga pas-pasan saat menaklukan pendidikan di Jawa. Pendidikan membawa mereka terutama Edi Irawan yang bergelar doktor IPB tahun 1994. Sebagian dosen Unila menyebut IPB adalah tempat menyeramkan untuk menyelesaikan gelar Doktor.

Selain kesuksesan, pernah juga mengalami pasang surut, tapi selalu bangkit kembali.

Mereka berdua dalam politik, punya sifat mirip: soal ketulusan dan setia. Saat menemani senior di Lampung Post mengambil tulisan di kolom yang disediakan, ayahnya yang juga tokoh tua NU dan masyarakat Lampung sering bercerita meski dukungan saya terbatas, tapi berupayalah dengan keras mencapai impian.

MRF, menurut seorang loyalisnya yang punya jabatan tinggi di DPRD provinsi, sebenernya sudah menghitung potensi kekalahannya itu ada. Dua periode menjabat ketua DPD dan sekali menjasi gubernur, menyisakan kekecewaan minimal di 9 DPC. Namun dia merasa aman karena 2 DPC sukses di PLT-nya saat pilkada. Tidak mungkin ada yang berani melawan dirinya meski 7 DPC tidak mendukungnya. Bupati Way Kanan, Bupati Pesawaran, anggota DPR RI zulkifli Anwar dan Marwan Cik Hasan hanya dianggap ancaman kecil, tidak membahayakan dirinya. MRF sangat yakin dirinya akan terpilih secara aklamasi alias calon tunggal dalam Musda. Dia sadar, jika tidak aklamasi meski unggul suara apalagi sangat tipis, maka kepemimpinannnya dalam mengelola partai akan dinilai gagal. Tentu jadi bahan candaan politisi, sepuluh tahun lu ngapain aje?

Nasib baik Ridho sejak kecil menjadi anak dari keluarga berkecukupan, menjalani pendidikan Lemhanas, pramuka lalu tak disangka-sangka menjadi gubernur dan pemimpin partai Demokrat di usia muda.

Jika diibaratkan, kesusahan dan kemudaahan MRF sampai hari ini 2 berbanding lapan, surplusnya besar.

Menurut sohibnya yang kini menjadi pengurus DPP Demokrat, ketika Doktor Edi Irawan mendaftarkan surat dukungan pada dirinya dari 7 DPC langsung ke DPP Partai Demokrat via BPOKK (organ pusat Demokrat yang mengurusi Musda/Muscab), seluruh pengurus DPD Demokrat, seluruh anggota fraksi di DPRD dan kroni lamanya diperintahkan untuk mengagalkan pencalonan Edi Irawan.

Bagi MRF, telah nampak musuhnya adalah 7 DPC itu. Jika 5 dari 7 DPC tidak diamputasi dukungannya, maka MRF gagal menciptakan Aklamasi. Karena sudah dua ketua DPD yang maju ketiga kalinya termasuk Ketua DPD inkumben yang dipilih AHY karena aklamasi.

Adapun 2 DPC yaitu Lampung Selatan dan Bandar Lampung, dianggap lepas, karena sudah sangat mendalam kekecewaan pada dirinya, alias taraf pertentangan ideologis.

MRF, punya sifat keras kepala untuk tidak memilih jalan merangkul pada kompetiornya. Muda adalah konfrontasi. Gelimang hidup selama muda sampai menjadi gubeenur dan ketua partai 2 periode berpengaruh dengan caranya berpolitik, pindahkan dan jauhkan lawan politik, namun tak berfikir sedikitpun bahwa suatu saat akan ada reaksi balik.

Operasi darat dipimpin sekretaris dan bendahara loyalis MRF hampir sukses memindahkan dukungan salah satu ketua DPC yang sedang sakit serius. Kubu MRF seperti yang dikemukakan mantan sekretaris tidak menduga bahwa selain adminiatrasi, ternyata secara faktual Musda Demokrat melakukan pengecekan. Kabar dari mantan sekretaris DPD Demokrat tadi, saat diperiksa keabsahan dukungan, ketua DPC yang terkena stroke itu menyatakan dia diintimidasi saat mencabut dukungan dari Edi Irawan. Pelakunya disebut mantan Sekretaris dan mantan bendahara MRF yang juga ketua DPC dan dengan merayu istri sahnya untuk mempengaruhi sikap politiknya.

Akhirya secara tegas menyatakan bahwa Ia mendukung Edi Irawan saat dikonfrontir BPOKK. Ketua DPC ini terkenal pengusaha kopi sukses, menurut salah satu 7 ketua DPC yang paling awal sekali bertemu Edi Irawan mengungkapkan bahwa ketua DPC itu siap membantu logistik pada Edi Irawan sampai menang.

MRF dan tim masih terus berupaya mendapatkan aklamasi. Tidak ada pilihan lain, 5 ketua DPC apapun caranya harus mencabut dukungan. Adalah mantan ketua BPOKK DPD dan pimpinan tertinggi DPRD fraksi Demokrat membuat siasat hanya memberi dua kamar kepada 2 dari 7 Ketua DPC, padahal semua ketua DPC diaiapkan kamar oleh panitia. Tujuannya apa?

Tujuannya memisahkan 2 ketua DPC itu dari 5 ketua DPC lainnya. Untuk apa? Agar ke 5 ketua DPC itu mudah didekati, diimingi untuk menarik dukungan atau abstain. Bahkan ditawarkan pilihan untuk tidak hadir dalam Musda. Semua tawaran itu untuk memuluskan aklamasi.

Mengapa kubu MRF gagal? Masih bermimpi bahwa ketua DPC bisa dibayar seperti lima atau sepuluh tahun silam. Tak sadar bahwa saat ini sudah banyak tercipta kader ideologis yang menempuh cara benar adalah solusi politik berbasis akal sehat.

Secara umum mengapa MRF gagal mendapat aklamasi, bahkan dukungannya berpotensi kalah menjadi 5 melawan 7 dukungan DPC sah milik DPC pendulung Edi Irawan.

Sebagai mantan pengamat aktifitas politik di Lampung saya menyimpulkan :

Pertama, 5 target DPC itu bersama 2 lainnya tak bisa digoyah dengan apapun. Sudah soal pilihan bahwa Demokrat Lampung harus berubah, dan MRF cukup dua periode.

Kedua, mereka 7 ketua DPC itu yang telah meminta Edi Irawan mencalonkan diri, bukan sebaliknya.

Ketiga, mereka merasa berjuang dalam musda ini dengan cara yang benar, tidak menempuh cara kotor, mengikuti aturan, apapun hasilnya.

Keempat, MRF dan tim menganggap remeh Edi Irawan. MRF mengukur pertarungan dengan kekuatan logistik. Tanpa dukungan sugar Group (gulaku,) tak mungkin kekuatan politik internal Demokrat mampu mengalahkannya.

Siapa yang bisa mengukur logistik dan aset orang yang selalu tampak sederhana seperti Edi Irawan?

Sesumbar logistik itu, mungkin benar saat MRF menjabat gubernur. Siapa pula yang berani melawan gubernur yang kekuasaannya besar didukung kekuatan modal cukup raksasa?

Di saat jabatan dan dukungan sudah beralih bukan pada dirinya, mulai saat itu seharusnya MRF mulai tahu batas.

Selamat datang MRF menjadi manusia yang menapak ke bumi. Hidupmu harus lengkap dan mau mendengar.

Mungkin ini cara Tuhan menegur dan akan membesarkanmu di suatu saat.

Dari Musda Demokrat Lampung, bukan hanya belajar cara berdemokrasi, tapi belajar tentang kehidupan.

Bagi yang biasa menang tiba-tiba kalah. Bagi yang biasa tak diperhitungkan, tiba-tiba membuat kejutan.

Edi Irawan dan 7 ketua DPC sudah memenangkan pertarungan Musda ini. Dengan cara benar. Mungkin saja MRF akan tetap berupaya lakukan lobi intensif, untuk dimenangkan oleh AHY.

Ini kesempatan mendidik sikap ksatria, dan mundur. Tapi hanya mundur dari Musda. Tetap berupaya diberi kesempatan 5 tahun ke depan dan seterusnya. Jangan sia-siakan peluang buat MRF menahan diri 4 sampai 5 tahun, tapi selanjutnya kembali bersaing sebagai politisi yang memberi harapan.

Lebih baik mengambil gelar Doktor, agar bisa menuntun cara berfikir dan bertindak.

Akui saja seperti usul politisi senior Zulkifli Anwar bahwa Doktor Edi Irawan dan 7 DPC menang. Karena memang mereka faktanya menang. Segera anjurkan bersatu.(***)

* Penulis adalah mantan reporter.

BERBAGI