BERBAGI
Hulman Ardhinata menyampaikan kepada jamaah perihal makan siang.

Medsoslampung.co – Jatah konsumsi jamaah haji Indonesia di Makkah dihentikan sementara mulai 5 Dzulhijjah atau menjelang dan setelah puncak haji 1440 Hijriah atau 6 Agustus 2019. Artinya, jamaah masih mendapatkan jatah makan pada tanggal 5 Agustus.

Konsumsi dihentikan sementara mengingat kondisi jalanan di Kota Makkah padat. Sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan distribusi konsumsi katering kepada jamaah. Selain itu, tim yang menanggangi katering berpindah dari makhtab ke dapur umum di Arafah.

Kepala Seksi Katering Daerah Kerja Makkah Beny Darmawan mengatakan, penghentian sementara konsumsi jemaah haji ini akan dilakukan selama lima hari. Yakni tiga hari sebelum dan dua hari setelah masa puncak haji.

Senada dengan yang disampaikan oleh Ketua Kloter 50 Lampung Wawan Purnawan. Bahwa komsumsi ini dihentikan hanya bersifat sementara dan sudah menjadi ketentuan yang dijalani setiap tahunnya.

“Konsumsi dihentikan pada 6, 7, 8, 15 dan 16 Agustus,” kata Wawan.

Petugas TPHD Lampung Bagian Pelayanan Umum Hulman Ardhinata menyampaikan, selama masa puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, jemaah haji asal Lampung akan diperlakukan sama seperti jamaah haji indonesia dari daerah lain yaitu akan memperoleh 15 kali makan.

“Jamaah tidak perlu khawatir tidak memperoleh makan selama masa puncak haji. Sejak tiba di Arafah pada 8 Zulhijah siang, jamaah sudah mulai mendapatkan makan,” ujar Hulman.

Adapun jatah makan yang diberikan kepada jamaah adalah makan siang dan makan malam saja. Sedangkan sarapan jemaah sebagaimana disampaikan pada kesempatan terpisah oleh Menteri Agama Lukman, tatkala mengunjungi jamaah haji. Bahwa selama ini katering yang didistribusikan kepada jamaah haji memang untuk makan siang dan makan malam.

Sementara untuk makan pagi disiapkan roti dengan perlengkapan untuk membuat teh dan membuat kopi.

Disamping itu, perusahaan katering yang menjadi rekanan di Arab Saudi juga sering kesulitan dalam soal distribusi makanan kepada jamaah. Apalagi, ada jatah makan pagi.

“Kalau harus ada makan pagi itu berarti setiap perusahaan katering harus mendistribusikan tiga kali dalam sehari. Sesuatu yang memang tidak mudah mengingat kondisi Kota Makkah sangat padat khususnya hari-hari menjelang wukuf. Ini tentu menjadi masukan yang harus dipertimbangkan,” ungkapnya. (roz/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here