BERBAGI

Medsoslampung.co – Kepala Bagian SPI PTPN VII Agus Faroni memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Politehnik Negeri Lampung (Polinela), Minggu (8/9).

Kuliah umum itu guna menyelaraskan substansi mata kuliah program produksi tanaman perkebunan. Dan perusahaan plat merah itu menjadi nara sumber selaku BUMN Perkebunan. Acara diikuti oleh dosen yang mengajar di perguruan tinggi tersebut.

Agus Faroni memberikan materi tentang Manajemen Perkebunan Pada Proses Bisnis PTPN VII.

“Materi ini sebagai sharing program mata kuliah yang ada di Politehnik Negeri Lampung,” kata Agus.

Menurutnya, kegiatan ini sebagai penyelaras substansi mata kuliah yang ada di Polinela.

Dalam paparannya, Agus Faroni menjelaskan tentang bagaimana proses bisnis di PTPN. Bahwa dalam  manajemen perkebunan pada proses bisnis ada tiga sektor utama. Yakni inti, pendukung, dan perencanaan.

Pada sektor inti, terdiri dari Manajemen  Tanaman, Manajemen Pengolahan dan Manajemen Pemasaran.

Disektor pendukung, ada Manajemen SDM Manajemen Keuangan,  Manajemen Logistik Tata Kelola Teknologi Informasi, Hukum dan Regulasi, Manajemen Risiko, General Affairs, Manajemen Aset, Manajemen Lingkungan, serta K3 serta Manajemen Sarana  dan Prasarana.

Sedangkan di sektor perencanaan, ada perencanaan dan pengembangan.

Dalam kesempatan ini, Agus juga menjelaskan bagaimana cara budidaya tanaman karet dan sawit. Mulai dari pembibitan, persiapan lahan bibitan, persiapan batang wawah, under stump, persiapan batang atas (Entrys), penyerongan & pembongkaran, bibit, penanaman & pemeliharaan, bibit polibag, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), hingga buka sadap. Ini untuk tanaman karet.

Sedangkan untuk tanaman sawit, beberapa hal yang harus disiapkan yakni  Land Clearing (LC), Land Preparation (LP), persiapan Tanam, penanaman Bibit. Sarana & prasarana pemeiliharaan TBM hingga panen.

Ia juga mengungkapkan tantangan dalam menjalankan bisnis perkebunan. Di antaranya, fluktuatif harga jual, tingkat upah kerja cenderung meningjat, kelebihan tenaga kerja dan administrasi.

Selain itu, dalam paparan juga diungkapkan beberapa strategi dalam meningkatkan produktifitas tanaman dan tenaga kerja. Diantaranya  program penyehatan kesuburan tanah, aplikasi latex diagnosis, reward kepada karyawan yang memiliki protas tinggi, TM Karet tidak dilaksanakan aplikasi pemupukan, sistem Sadap D4/ D5 dan Kavpeld Panen 8/10 dan  strategi minus growth untuk rasionalisasi tenaga kerja. (brl)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here