BERBAGI

Medsoslampung.co – Tempat pembuangan sementara (TPS) sampah selalu menjadi masalah yang tak ada penyelesaian di Kabupaten Lampung Utara (Lampura). Ironisnya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat cuek saja dengan kondisi tersebut.

Seperti yang ditemukan awak media ini, pada Kamis, (13/6), di Jalan Bukit Pesagi, Kelurahan Kota Alam, Kecamatan Kotabumi Selatan. Sampah rumah tangga tampak menggunung dan berbau busuk. Bahkan, sampah-sampah tersebut tampak menyumbat saluran air, gorong-gorong, hingga bertebaran ke badan jalan.

“Keberadaan sampah itu sudah berhari-hari mulai dari hari lebaran kemarin, Mas. Sampai hari ini, yah… kondisinya (sampah) terus bertambah hingga menumpuk dan sudah berbau busuk,” ujar Sulasmin, warga sekitar yang kediamannya tepat berada di dekat pembuangan sampah tersebut.

Selain aroma tidak sedap yang kerap tercium hingga ke dalam rumahnya, Sulasmin juga khawatir keberadaam sampah yang tidak diangkut ke tempat pembuangan akhir itu dapat menjadi sarana penyebaran wabah penyakit.

“Saya berharap pemerintah dapat memberikan solusi terbaik supaya sampah-sampah itu tidak dibiarkan sampai berhari-hari seperti yang ada sekarang ini,” pintanya.

Sementara itu, Lurah Kota Alam Felix Sulandana mengatakan, permasalahan sampah di lokasi tersebut memang selalu menjadi persoalan serius dan seolah tidak ada akhirnya.

“Sampah di lokasi itu memang sudah menjadi masalah yang tak pernah selesai. Karena, selain sudah menjadi kebiasaan warga sekitar membuang sampah di tempat itu, keadaan tersebut terkesan luput dari perhatian instansi terkait,” tegas Felix, saat dikonfirmasi, Kamis, (13/6), melalui komunikasi via ponsel.

Diakui Felix, pihaknya sudah berkoordinasi secara intens dengan BLH guna mengatasi persoalan sampah yang kondisinya sangat mengkhawatirkan.

“Keberadaan sampah rumah tangga yang ada di lokasi itu memang sangat mengkhawatirkan. Selain tidak sedap dipandang mata, lingkungan yang kotor seperti itu justru dapat mempengaruhi program pemerintah guna meraih Penghargaan Adipura,” paparnya.

Dirinya juga menyampaikan jika terus dibiarkan, tentu sewaktu-waktu memberi dampak negatif bagi kesehatan warga dan berpotensi menebar ancaman bencana alam.

“Wilayah itu kerap langganan bencana banjir dan epidemi penyakit demam berdarah,” imbuh Felix seraya mengatakan, faktor lain sulitnya mengatasi persoalan sampah di lokasi tersebut juga disebabkan tanah tersebut milik perseorangan.

“Tanah di lokasi tempat pembuangan sampah sementara itu milik perseorangan. Meski dirinya merasa terganggu dengan adanya sampah di tanah miliknya, namun dia keberatan jika dibuatkan bak penampung sampah di tanah tersebut,” beber Felix.

Dia melanjutkan, dalam waktu dekat, dirinya akan berkoordinasi dengan instansi terkait dan bersama warga sekitar akan melakukan gotong-royong untuk membersihkan sampah yang ada.

“Dalam waktu dekat, kami akan bergotong-royong membersihkan sampah di tempat tersebut demi kepentingan bersama sembari mencari solusi agar keadaan itu tidak lagi berlarut-larut,” tutup Felix Sulandana. (lin/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here