BERBAGI
Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menyampaikan prospek potensi KIET Sebalang di Kantor BI Perwakilan Lampung, Selasa (3/9) siang. Foto Biro Humas dan Protokol Pemprov Lampung.

Medsoslampung.co – Gubernur Lampung Arinal Djunaidi sangat optimistis akan potensi Kawasan Industri Energi Terpadu (KIET) Sebalang. Sebab, keberadaannya menjawab kebutuhan energi industri Petrokimia di Indonesia yang sangat mendesak.

Gubernur memaparkan, Asosiasi Industri Olefin dan Plastik Indonesia mencatat lebih dari separuh kebutuhan Petrokimia dalam negeri berasal dari impor. Nilainya mencapai 55% dari Kebutuhan Nasional. Sementara Permintaan produk petrokimia hulu yang meliputi polietilena (PE), polipropilena (PP), polistirena (PS) dan polivinil klorida (PVC) sepanjang tahun 2017 sebanyak 5,83 juta ton.

“Dari hampir enam juta ton kebutuhan bahan baku petrokimia di dalam negeri tersebut, industri petrokimia di dalam negeri hanya mampu dipenuhi dua juta ton. Sisanya harus impor, hal yang tak terhindarkan menjadi pemborosan devisa nasional,” jelas Gubernur Lampung dalam Focus Group Discussion (FGD), di Ruang Rapat Lt. 2 Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Lampung, Selasa (3/9) siang.

Karena itu, lanjut gubernur, Lampung memiliki kemampuan luar biasa, mengingat Banten khususnya Cilegon memiliki daya dukung mempertahankan kawasan industri yang semakin menurun. Kemudian kawasan industri Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) juga kurang efisien.

Gubernur Arinal menjelaskan bahwa Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong pertumbuhan industri petrokimia di Indonesia. Sebab, industri ini berperan penting dalam memenuhi kebutuhan produksi di sektor manufaktur yang sifatnya padat modal, padat teknologi, dan lahap energi. Oleh sebab itu, pengembangan industri kimia perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah.

“FGD ini penting sebagai program percepatan pembangunan infrastruktur kawasan industri energi terpadu Sebalang,” ujar Gubernur Arinal.

Selain menggalang komitmen para pihak pemangku kebijakan baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, Gubernur Arinal berharap FGD ini dapat menggali potensi dukungan-dukungan dalam rangka percepatan pelaksanaan proyek, sekaligus menginventarisir permasalahan dan solusi penyelesaiannya.

“Selain itu, FGD ini juga diharapkan dapat mencatat perusahaan perusahan dan lembaga usaha yang potensial untuk ambil bagian dari aktivitas Kawasan Industri Petrokimia Terpadu,” pungkas gubernur.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Lampung Budiharto Setyawan, menjelaskan bahwa pelaksanaan FGD sebagai bentuk sinergi antara Pemprov Lampung dan BI yang semakin baik dan terus meningkat.

“FGD ini juga sebagai dukungan dari BI dalam meningkatkan perekonomian Provinsi Lampung,” jelasnya.

Budiharto berharap FGD ini mampu meningkatkan perekonomian dan investasi di Provinsi Lampung. (brl)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here