BERBAGI

Medsoslampung.co – Ratusan jamaah bersimpuh dalam doa khusuk di Masjid Baiturrahman, Kompleks PT. Buma Cima Nusantara (BCN, anak perusahaan PTPN VII), Bunga Mayang, Lampung Utara, Kamis malam (20/6).

Jamaah yang terdiri dari karyawan, masyarakat, tokoh masyarakat, dan aparat kecamatan dari desa sekitar Pabrik Gula Bunga Mayang itu untuk kesuksesan musim giling tebu perusahaan tersebut yang direncanakan mulai tanggal 25 Juni 2019.

Acara diawali salat Isya berjamaah dilanjutkan salat hajat dan istighosah. Hadir pada acara itu, Direktur Produksi PT BCN Dicky Tjahyono, para manajer, Anggota DPRD Lampung Utara, Kapolsek Bunga Mayang dan Sungkai Selatan, Danramil, para Kepala Desa sekitar pabrik, dan masyarakat. Salat hajat dan istighotsah diimami KH. Samsul Hisom, sedangkan tausiyah oleh Ust. Tanu Maulana.

Dalam pengantarnya, Dicky Tjahyono menyampaikan terima kasih kepada para ulama, para pejabat pemerintahan di lingkungan pabrik, dan para tokoh masyarakat yang antusias mengikuti acara.

Hal ini, kata dia, merupakan bentuk dukungan lahir batin untuk kejayaan kembali pabrik gula yang mulai tahun ini berproduksi dengan bendera PT BCN.

“Saya terharu dengan agenda relijius seperti ini dan dihadiri banyak tokoh. Ini adalah ikhtiar lahir batin, fisik dan spiritual, yang semuanya kita persembahkan untuk kelancaran, kesuksesan PG Bungamayang dalam memulai musim giling 2019,” kata mantan Manajer PTPN VII Unit Bekri ini.

Dicky menjelaskan, PT BCN mengelola dua perkebunan tebu dan pabrik gula, yakni Cintamanis dan Bungamayang. Unit Cintamanis di Sumatera Selatan sudah lebih dulu buka giling. Sedangkan PG Bungamayang baru akan giling pada Selasa, 25 Juni 2019.

“Kami menyampaikan terima kasih atas doa tulus bapak ibu sekalian, dan mohon terus didoakan agar kami sukses. Sebab, sukses produksi pabrik ini juga pasti berimbas dengan denyut ekonomi masyarakat sekitar,” kata dia.

Mengenai target produksi, Dicky mengakui belum bisa maksimal tahun ini. Koondisi tanaman tebu yang kurang maksimal mengharuskan pihaknya berupaya menguatkan pada aspek-aspek lain.

“Rendemen memang tergantung kepada kondisi onfarm atau kondisi tebu di lapangan, tetapi kami terus berupaya untuk memperbaiki di aspek lain untuk mempertahankan rendemen. Antara lain, menekan sekuat mungkin losess di semua lini, memperbaiki efektivitas pabrik, dan segala opsi yang bisa kita lakukan. Kami targetkan tahun ini PG Bungamayang bisa memproduksi 60 ribu ton gula kristal,” jelas dia.

Ke depan, kata Dicky, pihaknya sudah menyiapkan rencana restrukturisasi dalam seluruh proses. Mulai dari perubahan sistem pengolahan tanah, perbaikan klon dan varietas, dan penggunaan teknologi mekanisasi dalam setiap proses.

“Kami adalah salah satu industri gula di luar Jawa yang sedang mendapat perhatian Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian. Ini karena kondisi pabrik dan bahan baku gula di Pulau Jawa yang mulai kesulitan sehingga pemerintah memberi atensi khusus kepada Buma dan Cima,” kata dia.

Bukan hanya tebu milik perusahaan (TS), Kementerian juga menaruh harap kepada tebu rakyat (TR).

Dicky menyebutkan, pihaknya selaku mitra petani tebu telah mengusulkan kepada Kementerian untuk mendapatkan bantuan alat-alat mekanisasi untuk tebu rakyat.

“Kedepan, tebu rakyat juga akan dipanen dengan harvester, mesin tebang tebu. Ini bantuan dari Kementerian untuk penguatan swasembada gula,” tambah Dicky.

Sementara itu, sebelum memulai salat hajat dan istighotsah, KH. Samsul Hisom meminta jemaah untuk fokus kepada munajat bersama dalam bukan giling PG Bungamayang 2019.

Ia mengajak semua hadirin untuk mengosongkan pikiran dari rasa takabur oleh atribut-atribut jabatan, kekayaan, dan sebagainya seraya membuka hati dan jiwa untuk menembus kebaikan Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Senada dengan Samsul Hisom, Ust. Tanu Maulana dari Kotabumi juga menguatkan pentingnya upaya spiritual melalui doa kepada Alloh SWT dalam setiap usaha.

Dia menyebut tiga kunci utama untuk dapat sukses menjemput rezeki Tuhan. Pertama, kata dia, libatkan Alloh dengan cara mendekatkan diri, zikir kepada Alloh. Kedua, mendekatkan diri kepada orang-orang yang dekat dengan Alloh. Dan yang ketiga, serahkan suatu pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

“Pasti ada yang bertanya dalam hati, mengapa banyak orang tidak pernah salat atau bahkan tidak menyembah Alloh kok malah kaya raya? Jawabannya, kekayaan sesungguhnya bukan harta benda yang dinikmati secara lahiriah fisik. Boleh jadi, mereka kaya secara materi, tetapi tidak memiliki rezeki yang paling hakiki. Yakni, kecukupan materi, kelapangan pikiran, ketenteraman hati, dan katakwaan akan hari akhir. Kita mau buka giling berdoa dan istighotsah, semata untuk mendapatkan berkah dari apa yang kita peroleh,” kata pengasuh Pondok Pesantren Khusnul Amal, Kotabumi itu. (hms-ptpn7/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here