BERBAGI

Medsoslampung.co – Dengan sepeda motor, Mahmudi, Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III Holding menyisir kebun sawit PTPN VII Unit Betung Kerawo, Rabu (16/9/20). Ia didampingi Senior Executive Vice President (SEVP) Operational I PTPN VII Fauzi Omar dan SEVP II Dicky Tjahyono.

Secara acak Mahmudi mengontrol secara seksama setiap detail tanaman.
Bukan hanya tanaman, Mahmudi juga memperhatikan infrastruktur kebun.

Secara detail, ia juga mengamati bekas luka panen, berondolan, bahkan kebersihan kebun. Turut dalam inspeksi itu, Sekretaris Perusahaan Bambang Hartawan, Kepala Bagian Tanaman Wiyoso, Manajer Unit Betung Krawo Aris Afandi, dan beberapa staf.

Ketelitian pada inspeksi Mahmudi mengacu kepada data tentang adanya kebun yang belum bisa digali secara maksimal. Alumnus Magister Agrobisnis Undip Semarang ini mengatakan, setiap masalah yang timbul di lapangan harus mendapat penanganan serius.

“Masalah besar itu belum tentu disebabkan oleh hal besar. Boleh jadi kita kurang akselerasi bangkitnya karena abai terhadap sesuatu yang urgen, tetapi dianggap sepele. Seperti masalah manajemen panen, ini kadang kita anggap biasa. Juga berondolan, misalnya, ini nilainya sangat luar biasa, tetapisering kita kecilkan,” katanya.

Hal lain yang menjadi perhatian Mahmudi adalah infrastruktur kebun. Titik ini dia anggap sangat krusial karena memang secara skala, masalah prasarana kebun ini tidak bisa diatasi hanya dengan solusi kecil. Menurut dia, PTPN Holding sebagai pemegang saham mewakili pemerintah akan memberi perhatian kepada sektor infrastruktur kebun.

Sepeda motor jenis trail yang dikendarai Mahmudi membelasak kebun-kebun cukup jauh. Ia yang diikuti sepeda motor lainnya masuk kebun Afdeling 3, Afdeling 4, dan Afdeling 6 Unit Betung Kerawo. Lepas dari Beka, sebutan singkat Unit Betung Kerawo, ia berpindah ke Afdeling 3 Unit Betung.

“Penting bagi kita semua untuk menyadari, dengan keterbatasan finansial di PTPN VII tidak kemudian menyerah dengan apa yang ada. Kita harus terus bergerak untuk menemukan simpul-simpul masalah agar kita segera bangkit. Ada hal penting yang perlu diperhatikan pengawasan dan meningkatkan manajemen panen, sehingga hasil produksi dapat tergali dengan maksimal,” direktur yang memulai karir sebagai Sinder Kebun di PTPN IX itu.

Mahmudi meminta semua karyawan dari semua level menerapkan manajemen keterbukaan dalam hal kondisi terkini. ia tidak ingin ada kondisi yang tidak ideal, karena menghindari teguran, ia memilih opsi berbohong dan melaporkan semua berjalan sebagaimana biasa.

“Ada sebagian karyawan yang menutupi keadaan yang sebenarnya kepada atasan karena takut ditegur. Seperti misalnya saat ditanya tentang berondolan, dia bilang bersih terpungut, padahal sebenarnya tidak. Ini fatal karena akan menghambat semuanya. Memang terlihat sepele, tetapi sangat potensial,” katanya.

“Saya minta kita semua saling terbuka, jika ada areal yang tidak dapat dipanen apa kendalanya dan apa yang dibutuhkan sehingga Holding bisa memberi solusi sesuai kebutuhan. Kami yakin dengan kebersamaan, kerja keras, dan kepedulian seluruh insan PTPN VII dapat kembali bangkit,” sambung Mahmudi.

Setelah melihat lapangan dan hasil sensus buah sawit, secara umum Mahmudi sangat yakin potensi sawit di wilayah Sumatera Selatan sangat besar dan dapat melampaui RKAP. Ia mewanti-wanti agar manajemen panen mulai dari kematangan Tanda Buah Segar (TBS) dan memungut brondolan ditingkatkan.

SEVP Operation II PTPN VII yang membidangi kelapa sawit fauzi Omar menyambut baik kunjungan dan arahan Mahmudi. Ia mengatakan, komoditas sawit di wilayah Sumsel menjadi perhatian khusus manjemen PTPN VII. Secara geografis, sawit di wilayah Sumsel potensinya sangat baik dengan curah hujan yang cukup.

“Alhamdulilah faktor alam di wilayah Sumsel sangat mendukung untuk sawit. Kami yakin imbas kemarau panjang 2019 bisa segera berakhir dan memulai produksi yang lebih baik,” kata mantan General Manajer PTPN VI itu. (brl/iwr)

BERBAGI