BERBAGI

Medsoslampung.co – Provinsi Lampung merupakan penghasil kopi nomor dua di Indonesia. Rata-rata produksi sebanyak 131.854 ton per tahun. (Data Monitoring dan Evaluasi Pemprov Lampung)

Jumlah itu hanya kalah sedikit dari Sumatera Selatan, yakni 147.090 ton per tahun. Di bawah Lampung mengekor Bengkulu 88.861 ton per tahun, Sumatera Utara 60.758 ton per tahun, dan Jawa Timur 61.337 ton per tahun.

Dari angka itu, sudah dipastikan bahwa Pulau Sumatera menyumbang 70 persen kopi nasional. Diikuti Pulau Jawa 12 persen, Sulawesi 5 persen, Bali dan Flores 5 Persen, dan wilayah lainnya 8 persen.

Yang menarik, Indonesia tercatat sebagai produsen keempat dunia dengan total produksi 639 ribu ton per tahun. Masih kalah dari Brasil (2,9 juta ton per tahun), Vietnam (1,65 juta ton per tahun) dan Kolombia 840 ton per tahun).

Fakta mirisnya, meski tercatat sebagai produsen terbesar dunia, Provinsi Lampung masih melakukan impor kopi. Hal ini tentu saja membuat petani kopi Lampung menjerit.

Itu pula yang membuat Gubernur Lampung Arinal Djunaidi sangat-sangat geram. Karena itu, saat ini gubernur berupaya menyetop impor kopi tersebut.

“Kita (Lampung) produsen kopi, eh malah impor kopi. Ini akan saya komunikasikan agar dicabut impornya. Sayang petani kita. Bagaimana mau sejahtera kalau harga kopi petani dirusak oleh kopi impor,” ucap gubernur, saat audiensi dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) media di Lampung, Selasa (23/7).

Lebih mengejutkan lagi, impor datang dari Vietnam. Padahal, dulunya mereka belajar ke Indonesia bagaimana bercocok tanam kopi. Salah satunya belajar dari Lampung.

Dan, kini Gubernur Arinal punya terobosan mendongkrak produksi kopi 4 ton per hektar. Sangat besar peluang Lampung menguasai produksi Nasional kopi robusta.

Gubernur telah secara khusus menemui Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Gubernur mengungkapkan dengan semangat akan mengembalikan kejayaan kopi Lampung. Dan ini direspons baik sekali oleh Mentan.

Gubernur memaparkan, Lampung memiliki areal tanam kopi robusta terbesar di Indonesia. Tersebar di Kabupaten Lampung Barat seluas 53.611 hektar dan Kabupaten Tanggamus 42.267 hektar. Lainnya ada di Kabupaten Pesawaran, Lampung Utara, dan Way Kanan.

“Kita punya potensi lahan perkebunan. Ini peluang besar untuk meningkatkan produksi kopi,” kata gubernur.

Menurut Gubernur Arinal, peningkatan produksi dimulai dari rehabilitasi tanaman kopi yang sudah tua. “Penggantian tanaman kopi dengan bibit baru diharapkan kopi di Lampung semakin produktif,” ujarnya.

Lalu, pemerintah akan menjamin ketersedian pupuk sehingga pemberian pupuk seimbang. “Kita juga beri tata cara tanam perkebunan kopi, sehingga menghasilkan biji kopi berkualitas,” sambung gubernur.

Saat akan panen, petani diberi pengetahuan panen yang baik. Diupayakan petani tidak melakukan panen pelangi, yakni panen antara biji merah, kuning dan hijau.

“Setelah produksi, petani kembali diberi pengetahuan tentang packaging sehingga ada nilai tambah. Kita juga akan bantu petani menembus pasar,” pungkas gubernur. (nizwar)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here