BERBAGI
Paus Sastra Lampung Isbedy Setiawan ZS bersama penyair Sumatera Selatan, Anwar Putra Bayu, di dalam perjalanan Kereta Api dari Merak menuju Rangkas Bitung. 

Penyair kebanggaan Lampung, Isbedy Stiawan ZS siap menghadiri La Tansa International Festival (LILFEST) di Lebak, Provinsi Banten, pada 6-8 September 2019. Berikut catatan perjalanan pengampu Lamban Sastra berjuluk Paus Sastra Lampung tersebut.

AKHIRNYA, perjalanan dengan kereta api dari Merak ke Rangkas Bitung, terwujud.

Subuh kapal yang membawaku dari Bakauheni, Lampung, merapat. Pukul 05.45 WIB, kami melangkahi koridor dermaga ke Stasiun Kereta Api (KA) Merak. Kereta berangkat pukul 06.30, 2 jam perjalanan.

Tiket seharga Rp3 ribu. Wow! Murah sekali. Berbeda jauh ongkos KA Tanjung Karang-Kotabumi. Ternyata Jawa dan Sumatera soal ongkos transportasi perbandingan mencolok.

Apa yang kurindukan, mengenang era kolonial tercapai. Penyair Sumatera Selatan, Anwar Putra Bayu, juga berselera sama.

Kami nikmati perjalanan spoor selama 2 jam dengan bahagia. Apatah fasilitas pendingin (AC) yang bagus, ada alat ngecas HP, toilet yang baik. Sempurnalah 2 sang pribumi ini merasakan era kolonial di zaman modern.

Santai, rileks. Tak terasa stasiun demi stasiun kecil dilewati. Sampailah aku di Stasiun Rangkas Bitung. Ini stasiun terakhir KA lokal. Dari sini ke Jakarta gunakan KRL.

Rangkasbitung. Ini daerah bagian dari Kabupaten Lebak, mengingatkan sang Multatuli/Max Havelaar/Dauwes Decker. Lelaki Nederland yang datang ke Indonesia seharusnya membawa misi Ratu: penjajah. Decker ternyata tak bisa melihat kekejian, ketakadilan oleh kolonial. Boemi Poetra jadi sapi perah, injakan, dan lain-lain.

Buku Max Havelaar dengan tokoh Multatuli yang digambarkan selalu memakai sal. Juga Saija dan Adinda.

Decker juga membongkar terjadinya tindakan korupsi yang dilakukan oleh Bupati Lebak kala itu.

Segala kekejian kolonial dilaporkan secara tertulis kepada Ratu di Belanda. Pihak kerajaan di Belanda juga tahu dari tulisan-tulisan Decker!

Malahan penulis Max Havelaar itu tak diterima di negerinya. Ia kemudian memilih kontrakan (sebuah kamar) di luar negeri Keju hingga wafat.

Di Rangkas Bitung diabadikan nama Multatuli untuk sebuah jalan.

Ya! Aku ingin mengenang perjalanan kolonial dengan menggunakan KA. Transportasi produk Belanda.

Tetapi, tentunya, aku tak hendak mengambil pelajaran dari sikap penjajah. Sekadar napaktilas sang priboemi. Si Boemi Poetra. Anak Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945. (isbedy/nizwar)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here