BERBAGI

Medsoslampung.co – Limbah PT Lampung Distribusindo Raya (LDR) kerap mencemari lingkungan sekitar Desa Kali Balangan, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara (Lampura).

Mirisnya, masyarakat yang telah mempersoalkan hal tersebut dibodohi dengan pemberian ganti rugi, yang terkesan dipaksakan.

Ahmad Sofri Yansyah, pengacara yang ditunjuk masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban PT LDR, membenarkan hal tersebut.

Masyarakat Desa Kali Balangan menunjukkan dampak pencemaran limbah.

Menurut dia, masyarakat diperdaya oleh PT LDR dalam hal ganti rugi. Sebab masyarakat merasa belum diajak komunikasi terkait pembahasan itu.

“Perwakilan klien saya (Edi dan Suhet) mengaku mereka didatangi oleh pimpinan PT LDR bersama kepala desa setempat untuk memberikan ganti rugi. Mereka bingung karena belum tahu sejauh mana proses ini tiba-tiba didatangi dan terkesan dipaksa untuk menerima sejumlah uang sebagai ganti rugi. Inikan namanya pembodohan. Sedangkan kami selaku pengacara yang ditunjuk masyarakat menangani persoalan ini tidak pernah diajak komunikasi,” seru Ahmad saat ditemui di kediamannya, Minggu (30/6).

Tanaman padi masyarakat yang terdampak limbah PT. LDR.

Anehnya lagi, lanjut dia, masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan PT LDR dan langsung menerima dampak limbah tersebut justru saat itu tidak dilibatkan atau diajak komunikasi.

“Ini ada saudara Dudi dan Fajri. Rumah mereka berdekatan langsung dengan perusahaan. Mereka¬† tidak didatangi atau diajak komunikasi terkait ganti rugi. Inikan aneh sudah proses tidak melibatkan kuasa hukum eh peroses ganti rugi terkesan pilih-pilih dan sepihak,” kata Ahmad.

Ini lah limbah PT. LDR

Ditempat yang sama, Dudi dan Fajri mengaku mereka tidak dilibatkan dalam hal ganti rugi dari adanya dampak limbah PT LDR. Padahal, letak rumah mereka hanya hitungan langkah kaki saja.

Mereka merasa amat kecewa atas kebijakan yang diambil jajaran PT LDR. Karenanya, mereka menolak pembangunan dan beroperasinya kembali perusahaan distribusi produk Wings tersebut paska kebakaran yang menghanguskan hampir semua gedung perusahaan tersebut beberapa bulan yang lalu.

“Kalau begini kami menolak dibangun dan dioperasionalkan kembali kegiatan PT LDR. Karena dari kejadian ini saja mereka terkesan tidak ada tanggungjawab sosial kepada masyarakat sekitar. Kami tegaskan menolak kehadiran perusahaan itu kembali,” tegas Dudi yang diamini Fajri.

Diketahui, beberapa bulan lalu, PT LDR mengalami kebakaran sehingga hampir seluruh bangunan yang ada hangus terbakar berikut produk-produk di dalamnya. Paska kejadian itu, rupanya  pihak perusahaan melakukan pembiaran terhadap sampah atau limbah yang ada.

Limbah-limbah yang hampir seluruhnya terbuat dari zat kimia dan membahayakan lingkungan tersebut akhirnya tabur dan mencemari sebagian besar lingkungan setempat baik itu berupa areal persawahan, kolam dan sebagainya.

Atas dasar itulah pada bulan Mei 2019 yang lalu masyarakat setempat menggugat PT LDR untuk meminta pertanggungjawaban secara sosial dari dampak pencemaran  lingkungan yang merugikan masyarakat. (ysn/hel)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here