BERBAGI
Nizwar di Pabrik Pencetakan Alumunium Alloy PT Inalum.

Sekretaris PWI Provinsi Lampung Nizwar berkesempatan berkunjung ke PT. Inalum di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Berikut catatan perjalanannya ke BUMN pertama dan terbesar Indonesia yang bergerak dibidang peleburan Aluminium itu.

DARI pabrik reduksi, kami menuju ke pabrik pencetakan. Sebelumnya, Inalum memproduksi Alumunium Ingot. Kini, perusahaan plat merah itu punya produk baru kenalin, yaitu Alumunium Billet dan Foundry Alloy.

Humas Inalum Bambang Heru Prayoga menjelaskan, diversifikasi produk alumunium ini untuk mendorong pengembangan produksi hilir.

Ia menyebutkan, produk Inalum punya ciri khas. Untuk Ingot, memiliki berat per batangnya 22,7 kg. Kualitas produknya dibagi dua, yaitu 99,90% dan 99,70%.

Sementara Alumunium Billet, Inalum memberikan kode seri empat digit dengan diameter mulai dari 5, 7, dan 8 inchi. Billet ini dapat digunakan untuk bahan gerbong kereta api, body kendaraan, dan digunakan secara luas pada konstruksi atap dan bangunan.

Sedangkan Alumunium Alloy, Inalum memiliki delapan tipe dengan kode seri A356.2. Alloy banyak digunakan pada komponen yang membutuhkan kekuatan tinggi, namun fleksibel dan ringan. Seperti material pesawat terbang atau lambung kapal atau velg mobil. Bahkan, kini banyak digunakan sebagai kerangka smartphone.

“Total kita mampu memproduksi 250 ribu metrik ton (MT) alumunium murni per tahunnya,” jelas Bambang.

Semua hasil produksi itu hanya untuk melayani pesanan dalam negeri. “Semua produk Inalum tidak boleh ekspor, utamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun, kita tidak dapat melayani pemesanan tanpa melalui kontrak kerja,” sambung Bambang.

Problem untuk peningkatan produksi adalah tungku reduksi. Karena itu, di Kuala Tanjung Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, akan dilakukan optimalisasi dan upgrading tungku peleburan.

“Lokasinya berdekatan dengan pembangunan kantor utama yang saat ini sedang berjalan,” ujarnya.

“Nah, itu pabrik upgrading yang kita persiapkan. Kita memang manfaatkan gedung yang ada,” tunjuk Bambang, ke calon lokasi pabrik peleburan.

Kapal pengangkut bahan baku yang diimpor dari Australia.

 

Selain itu, terkait juga dengan bahan baku yang saat ini masih diimpor dari Australia. Bahan baku dibawa menggunakan kapal yang langsung sandar di Pelabuhan Kuala Tanjung milik Inalum, yang masih satu areal dengan kawasan smelter seluas 200 hektare.

“Butiran alumunium masih kita impor. Tapi ke depan kita akan maksimalkan bahan baku dari dalam negeri, yang ada di Tanah Kuning, Kalimantan Utara. Bahan baku ini lebih baik dari Australia punya. Butirannya lebih padat,” jelas Bambang.

Ekspansi yang tengah dirintis itu telah dituangkan dalam nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara. Diawali dengan studi kelayakan PLTA di Sungai Kayan.

“Smelter yang dipersiapkan jauh lebih besar dari yang ada di sini (Batu Bara, Sumut),” tuturnya.

Disebut-sebut, dengan pembangunan smelter baru di Kalimantan Utara, ini Inalum dapat memproduksi 1 juta MT per tahun. Target itu akan dicapai pada tahun 2025 mendatang.

Bagaimana dengan harga jual? Ternyata hitungannya kelipatan ton. Per ton saat ini berkisar USD 1.300. sebelumnya, pernah mencapai hingga USD 1.500.

Tak heran, Inalum bisa mencatat pendapatan USD 433.683 million dengan laba bersih USD 66.441 million.

Wajar saja, perusahaan peninggalan Jepang penghasil petro dolar itu sejak 27 November 2018 ditunjuk sebagai holding industri pertambangan milik BUMN.

Bahkan, Inalum berhasil mengambil alih 51,23 persen saham PT. Freeport Indonesia pada 21 Desember 2018. Juga melingkupi PT. Antam Tbk, yang memiliki wilayah operasi di Pomala (Sulawesi Tenggara), Halmahera Timur (Maluku), Pongkor (Jawa Barat), dan Sanggau (Kalimantan Barat).

Lalu, wilayah operasi PT.Bukit Asam Tbk, di Tanjung Enim (Sumatera Selatan), Timah Tbk di Pulau Kundur, Karimun, Singkep, Bangka Belitung, Banjarmasin, dan Cilegon.

Hebatnya, seluruh BUMN yang berada di bawah Inalum mencatat progres luar biasa tahun lalu. Tercatat laba holding pertambangan sampai Desember 2018 mencapai lebih dari Rp8 triliun, naik sekitar 30% dari periode yang sama tahun lalu.

Dari segi pendapatan, juga meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni mencapai lebih dari Rp60 triliun.

Hampir satu jam kami berkeliling Smelter Inalum di Sei Suka. Kami pun kembali ke kantor utama Inalum untuk mengembalikan helm dan jaket visitor. Saatnya memburu makan siang. Setelahnya, bertolak ke Bandara Kuala Namu. Kembali ke asal masing-masing.

Khusus saya, pesawat baru take off dari Kuala Namu pukul 19.10 WIB. Mau tak mau, malam ini saya menginap di Bandara Soekarno-Hatta. Karena tak keburu lagi menguber penerbangan terakhir. Tapi tenang, ada rest area yang nyaman di bandara. Paginya, pukul 06.30, saya sudah terbang ke Lampung.

Selamat tinggal Batu Bara. Selamat tinggal Sumut. Kau sambut kami dengan senyum, pastilah terkenang selamanya. Sukses Inalum. Jayalah BUMN Indonesia! (selesai)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here