BERBAGI

Medsoslampung.co –┬áBadan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung menanggani delapan kasus narkoba hingga Agustus 2019. Dari jumlah itu, sebanyak 27 tersangka diamankan berikut barang bukti (BB) shabu 17,8 kg, ekstasy: 5,029, dan ganja 58.500 gr.

Sementara itu, Polda Lampung menangani 650 kasus dengan 927 tersangka. Sedangkan BB 64 kg shabu, ekstasy: 40,352 butir, dan ganja 374.

Demikian dijelaskan Kabid Pemberantasan BNN Provinsi Lampung Kombes Pol. Hennry Budiman, saat menjadi pembicara pada Bimbingan Teknik, penggiat anti Narkoba, BNN Provinsi Lampung, Senin (16/9).

“Sementara selama tahun 2018 BNN Provinsi Lampung dapat menggunakan pengingat 12 Kasus Narkotika dengan 33 tersangka. 20 orang luka tembak pada bagian kaki dan 8 tersangka meninggal dunia karena melawan, dan termasuk empat jaringan yang dikendalikan dari Lapas, melibatkan Kepala Lapas, Sipir, dan Napi,” kata Hennry.

Menurut Hennry, kejahatan narkoba merupakan kejahatan yang lintas negara (kejahatan transnasional), kejahatan terorganisasi (kejahatan terorganisir), dan kejahatan serius (kejahatan serius) yang menimpa segenap lapisan masyarakat, yang melibatkan sebagian besar dari segi kesehatan, sosial ekonomi, dan keamanan Dihadiri oleh beberapa generasi bangsa di masa depan.

Indonesia tidak lagi menjadi negara transit tetapi sudah menjadi pasar obat yang besar, dijual dengan harga yang tinggi (“pasar hebat, harga bagus”) sehingga Indonesia semakin rawan menjadi surga bagi para sindikat narkoba.

Pada tingkat dunia, perputaran atau estimasi global nilai uang dalam peredaran peredaran terlarang, rangking pertama, sebesar US $ 399 miliar, 80% dari jumlah keseluruhan uang yang diperdagangkan.

Namun, kata Henry, meski kejahatan narkoba adalah kejahatan paling berbahaya, akan tetapi kepada para pecandu pemakai adalah korban, yang harus di selamatkan. Para pencandu itu sakit yang harus di tolong, dan jangan dikenakan Undang Undang Pidana. Hal itu menjadi bagian sof Undang Undang Narkotika, yang melindungi para korban.

“Undang Undang Narkotika sudah cukup keras terhadap pelaku kejahatan narkoba. Tapi belum juga memberikan efek jera. Bahkan kini semakin banyak orang dalam penjara karena narkoba, hingga seluruh LP overkapasitas hingga 100% lebih, dengan beban negara kini hingga Rp3 triliun, hanya untuk makan,” katanya.

Kombes Hennry menyatakan, Negara Indonesia kini tidak lagi menjadi wilayah transit, tetapi berubah menjadi pasar peredaran Narkoba. Tahun 2019.

“Narkoba menjadi kejahatan berbahaya nomor satu di Indonesia termasuk Provinsi Lampung yang menjadi ikut dalam kondisi genting, karena menjadi rangking ke tiga terbesar dalam peredaran narkoba, yang kini sperti senjata pembunuh massal paling ampuh,” katanya.

Hennry menjelaskan Indonesia dalam darurat narkoba, seperti yang disampaikan Presiden RI, bahwa Indonesia menyatakan perang terhadap Narkoba.

“Pintu masuk ke indonesia yang begitu banyak. Bahkan terkadang yang pintu resmipun masih juga lolos, ini menjadi bagian tugas kita bersama bagaimana menekan dan mempersempit ruang gerak peredaran narkoba. Paling banyak masuk adalah narkoba asal china, yang di jual ke Indonesia, dengan harga yang menjanjikan,” katanya.

Bimbingan Teknis Pegiat Anti Narkoba yang digelar Badan Narkotika Nasional (BBN) Provinsi Lampung, Senin 16 September 2019 di Hotel Yunna, Bandar Lampung. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari dalam rangka meningkatkan partisipasi dan kepedulian seluruh stakeholder terhadap Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Serta membentuk pegiat anti narkoba di lingkungan masyarakat.

Provinsi Lampung menjadi daerah dengan rangking ke tiga Se-Sumatera, dengan urutan ke delapan tertinggi tingkat penyalahgunaan Narkoba. Secara Nasional, terdata 123 ribu lebih orang terpengaruh narkoba, yang di dalamnya banyak anak anak. (brl)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here