BERBAGI

JAKARTA – Ini fakta mengejutkan. Sebanyak 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan longsor tinggi hingga sedang. Yang lebih mengejutkan lagi, kemampuan mitigasi mereka masih sangat minim.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, umumnya masyarakat yang menderita longsor adalah masyarakat yang kemampuan ekonominya di bawah.

“Mereka tinggal di lereng-lereng perbukitan, pegunungan atau tebing yang curam tanpa ada mitigasi yang memadai sehingga sangat rentan,” imbuh pria kelahiran Boyolali tersebut.

Menurut Sutopo, pemerintah terus membangun dan meningkatkatkan mitigasi longsor. Namun masih terbatas. Saat ini baru terpasang sistem peringatan dini longsor sekitar 200 unit di Indonesia. Sedangkan kebutuhannya ratusan ribu unit.

Penataan ruang harus benar-benar dikendalikan. Artinya zona berbahaya longsor sedang dan tinggi sebaiknya tidak untuk dikembangkan menjadi permukiman. Daerah tersebut hendaknya dijadikan kawasan lindung atau terbatas pengembangannya.

Masyarakat yang sudah terlanjur tinggal di zona berbahaya tersebut hendaknya diproteksi dan ditingkatkan kemampuan mitigasinya. Tentu tidak mungkin semuanya dilakukan pemerintah. Dunia usaha atau swasta dan masyarakat juga harus terlibat membantu masyarakat.

“Jika tidak longsor akan selalu menjadi bom waktu. Terjadi longsor dengan hujan sebagai pemicunya,” tandas Sutopo. (rls/jpn/niz)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here